Enter your keyword

post

World Down Syndrome Day

Selamat memperingati Hari Sindrom Down seluruh dunia!

Sejak tahun 2012, tanggal 21 Maret ditetapkan sebagai Hari Down Syndrome Sedunia. Pemilihan tanggal tersebut memiliki filosofi, Tanggal 21 bulan ketiga merupakan presentasi keunikan tiga copy kromosom atau trisomi yang ada pada kromosom ke-21 dalam tubuh seorang anak dengan down syndrome. Down Syndrome adalah suatu kelainan bawaan genetik yang terjadi ketika kandungan masih dalam masa embrio dikarenakan kesalahan dalam pembelahan sel yang disebut dengan neodisjuction. Kromosom nomor 21 pada penderita down syndrome tidak membelah diri menjadi dua, melainkan berjumlah tiga atau trisomi. Akibatnya seorang bayi memiliki 47 kromosom bukan 46 kromosom seperti pada umumnya. Hal itu yang menjadi penyebab terjadinya ke abnormalitasan pada perkembangan fisik dan mental seorang anak yang mengalami down syndrome. Tujuan dari peringatan Hari Down Syndrome Sedunia yang jatuh pada 21 Maret ini untuk meningkatkan kesadaran publik serta menciptakan suara dunia tentang hak, inklusi, dan kesejahteraan penderita kelainan ini.

            Kelainan retardasi mental tersebut diperkenalkan pertama kali oleh Dr. John Langdon Down pada tahun 1866 dan dalam studi ilmiahnya mengungkapkan deskripsi yang cukup akurat mengenai karakteristik orang dengan kelainan tersebut. Pada tahun 1970-an istilah “Down Syndrome” ditetapkan oleh para ahli di Eropa dan Amerika sebagai nama dari kelainan itu yang merujuk pada nama penemu sindrom.

            World Health Organization (WHO) memperkirakan ada 8 juta penderita Down Syndrome di seluruh dunia. Dengan estimasi kejadian 1 : 1.000 per kelahiran atau sekitar 3.000 hingga 5.000 kelahiran anak di dunia yang mengalami kondisi tersebut. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2010 hingga 2018 kasus down syndrome di Indonesia cenderung meningkat. Riset terbaru tahun 2018 menunjukkan data kecacatan sejak lahir anak usia 24 hingga 59 bulan sebanyak 0, 41 persen. Berdasarkan riset yang dilakukan down syndrome menyumbang kecacatan terbesar hingga 0,21 persen dari jumlah tertimbang 57, 361.

            Yang special pada penderita down syndrome dengan orang pada umunya, seperti IQ rata-rata kurang dari 70, tinggi badan yang relatif pendek, kepala mengecil, hidung datar menyerupai orang mongoloid. Karakteristik itulah yang terkadang menjadi penyebab masyarakat memberikan statement dan perilaku negatif terhadap keberadaan orang dengan gangguan down syndrome. Hingga saat ini, khususnya di Indonesia, perhatian tentang kelayakan hidup penderita down syndrome masih kurang. Terbukti dengan masih maraknya diskriminasi terhadap penderita sehingga mereka tidak medapatkan perlakuan yang seharusnya. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya edukasi dan informasi secara menyelur mengenai “Apa itu Down Syndrom?” yang pada akhirnya banyak yang menganggapnya penderita down syndrome “aneh”.

Sebagai manusia yang diberi kesempurnaan fisik kita harus lebih bersikap kooperatif, positif, dan suportif pada penderita down syndrome. Penderita dengan down syndrome memiliki hak dan kesempatan yang sama dengan manusia normal lainnya untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Termasuk dalam mengembangkan bakat dan kemampuan sosial mereka, baik dalam ranah masyarakat atau pun pemerintahan.

Sumber :

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2018, “Laporan Riskesdas 2018”

https//tirto.id/leebih-dekat-dengan-down-syndrome-clbN diakses pada hari Minggu, 15 Maret 2020 pukul 11.30

Budijanto, Didik, dkk. 2019. Sindrom Down : Antara Fakta dan Harapan. Jakarta : Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI

https://www.ndss.org/about-down-syndrome/down-syndrome/ diakses pada hari Minggu, 15 Maret 2020 pukul 11.35

https//www.worlddownsyndromeday2.org/about-wdsd diakses pada diakses pada hari Minggu, 15 Maret 2020 pukul 11.36

https://www.google.com/amp/s/pijarpsikologi.org diakses pada hari Minggu, 15 Maret 2020 pukul 11.40

No Comments

Add your review

Your email address will not be published.

28 + = 31